Aku
menyelonjorkan kakiku setelah pantatku menyentuh kursi di ruang tunggu stasiun.
Sembari mencoba mengistirahatkan badanku aku memandang sekitarku, dan mataku
tertuju pada sesosok tubuh yang berdiri tak jauh dariku. Badanku merasakan ketegangan
yang sudah begitu lama tak lagi kurasakan. Masih tetap sama, sama sekali tidak
berubah meskipun sudah hampir 5 tahun aku tidak melihatnya. Rambut panjang
dengan gelombang bak air laut menambah eksotis wajah sawo matangnya, mata yang
tajam dan dalam membuat aura ketegasan terpancar dari wajahnya. Semua yang
sangat aku puja dan bahkan selama hampir 5 tahun ini aku mimpikan tanpa
terlewat seharipun. Hampir aku baranjak dari kursiku ketika selintas kejadian
itu terpapar di rekaman otakku. Rani Ayu namanya, perempuan yang sangat idealis
dan dinamis. Segala geraknya telah membuat aku memujanya dalam batasan yang
aneh. Aku urung berdiri dan kembali menarik tubuhku duduk di kursi. Aku takut
dia akan marah dan lari jika aku menyapanya. Aku memejamkan mataku mencoba
mengingat kejadian-kejadian silam bersamanya.
“Apa
yang kamu inginkan setelah ini ran?”, aku menanyakan padanya di suatu sore saat
duduk di bangku panjang kampus kami.
“Aku
ingin menjelajah bumi”, katanya sambil tertawa. Aku hanya memandangnya dan
semilir kebahagiaan hadir mendengar tawanya.
Dia menatapku dan memandang
dengan keheranan,
“Apa
ada yang salah dengan omonganku”, dia masih menatapku.
Aku hanya tersenyum dan
menggeleng, aku tahu dia tidak akan mengerti apa yang kurasakan. Dia tidak akan
tahu kalau tawanya telah membuat duniaku menjadi penuh warna, terasa indah. Lalu
kami tertawa bersama sambil menyeruput segelas es kopi kegemaran kami.
Aku berlari mengejarnya untuk
menunjukkan berita yang mungkin akan membuat dia sangat senang, dia menoleh
setelah aku berteriak memanggil namanya. Alis matanya terangkat keatas
melihatku seperti itu, aku hanya menyerahkan kertas yang bertuliskan namanya
dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Dia menerimanya lalu menekuri sejenak, dan
aaahhh benar sekali dugaanku. Karena wajahnya sedikit demi sedikit berubah memancarkan
kebahagiaan yang kalau saja dilukis dalam kanvas akan memunculkan goresan wanita
tercantik di belahan bumi ini. Sebelum sempat aku berucap apa-apa, tiba-tiba dia
berteriak dan memelukku dengan erat. Ya Tuhan...., andai saat itu aku tidak
berada dalam pelukannya mungkin aku sudah pingsan tak sadarkan diri. Dia
mencium pipiku dan aku bisa melihat dari matanya keluar butiran air mata tapi
aku tahu pasti itu air mata bahagia jadi aku tidak perlu khawatir.
“Aku...
aku.... aku.....”, dia tidak bisa meneruskan kata-kata yang ingin terucap dari
mulutnya. Seakan semua itu tersangkut di tenggorokkannya. Aku tersenyum dan
mengucapkan selamat padanya. Semuanya telah dia lakukan untuk mendapatkan
beasiswa ke negeri kincir angin.
“Tidak
ada usaha yang sia-sia ran”, aku
membimbingnya untuk duduk di bangku kampus kami. Dia memandangku, dan entah
kenapa aku tahu itu pandangan luka. Apakah kamu juga merasa kehilangan seperti
aku ran?, ingin sekali aku mendapatkan jawaban itu, tapi aku tak mampu
mengatakannya. Rani terlalu istimewa dan aku memujanya dalam konteks yang tak
bisa ku mengerti.
“Aku
terlalu bahagia sampai ga tahu mesti bilang apa, tapi aku tiba-tiba merasa
sedih harus pisah sama kamu”. Aduuuuhhhhh jantungku seakan terloncat keluar
mendengar kata-katanya. Dia juga merasakan apa yang kurasakan, rasa kehilangan.
Dia menyandarkan badannya di
pohon taman kampus kami. Bibirnya tak putus-putusnya bercerita tentang dukungan
keluarganya untuk menuntut ilmu di negeri orang. Aku mendengarkan tanpa
sedikitpun merasa bosan, toh bagaimana aku bisa bosan bersama orang yang sangat
kupuja. dia menatapku lalu tersipu mungkin karena dia sadar dia lah yang
memonopoli obrolan kami sore itu. Tiba-tiba dia duduk dan menatapku
“Apakah
kepergianku menyakitkan buatmu?”, aku terhenyak dengan pertanyaan itu. Aku
menggeleng keras-keras untuk meyakinkan bahwa itu tidak benar. Dia melihatku
dengan seksama dan kemudian menghela nafas saat dia percaya bahwa aku juga
turut senang dengan keputusannya.
“Dari
dulu aku ingin belajar disitu”, itulah yang dia katakan setelah itu, sebelum
akhirnya kami tenggelam dalam segelas es kopi kegemaran kami.
Tinggal 2 hari lagi sebelum
kepergiannya, aku masih dalam kebimbangan dengan semua perasaanku. Ingin sekali
aku mengatakan padanya betapa aku sangat memujanya, mengharapkan dia selalu
bersamaku selamanya. Tapi entah kenapa aku selalu gagal merangkai kata-kata
saat berdekatan dengannya. Dan sore itu dia datang ke tempat tinggalku dengan
membawa berita yang sangat menyakitkan.
“Dia
mengatakan mencintaiku, dan ingin aku menjadi kekasihnya” tiba-tiba dapat
kurasakan perputaran bumi dalam kepalaku saat mendengar dia mengatakan itu.
“Selama
ini aku menyukainya dan berharap ferdian juga begitu, dan kamu selalu tahu itu”,
untuk kali ini aku hanya memandangnya
ketika bibirnya mengatakan itu sambil tangannya memegang bahuku. Aku yang
memujanya, Aku yang selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun tapi
sekarang.... dia ingin memilihnya. Ferdian pebasket handal kampus kami telah
membuat raniku jatuh hati. Dan betapa sempurnanya waktu yang diambil ferdian
untuk mengungkapkan cintanya pada rani. Tanpa permisi, tanpa meminta
pertimbanganku rani memutuskan untuk menerimanya. Entah kenapa aku seakan tidak
bisa menerima semua itu. Aku mencoba menenangkan seluruh aliran darahku yang
terasa mendidih.
“Kamu
yakin dengan semua itu ran?, kamu akan pergi mengejar mimpimu dan apakah
hubungan kalian bisa terjaga?”, aku mencoba menyadarkannya bahwa cintanya
adalah kesalahan semata.
“Aku
sangat yakin dengan rasa yang ku miliki, sudah bertahun lamanya aku menunggu
saat ini seperti juga sesuatu yang ku impikan”. Dengan nada mantap rani
mengatakan hal itu. Aku sudah tak sanggup menahan gejolak yang ada di hati yang
kemudian menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Aku tak ingin raniku menjadi
milik orang lain.
“Rani....”
dengan sekuat tenaga aku mencoba mengumpulkan keberanianku. Dia memandangku dan
wajahnya seakan menunggu ucapanku.
“Aku
tahu ini terdengar aneh buatmu, tidak masuk akal dan tidak wajar... tapi.....”,
aku terdiam dan terjadi jeda saat itu. Dia
hanya diam dan melihatku dengan pandangan bingung.
“Apa
kamu tidak pernah tahu kalo aku sangat memujamu, sangat ingin bersamamu selamanya
karena aku tak sanggup hidup jauh darimu. Aku...aku....aku sepertinya
mencintaimu”. Dia terjingkat dari duduknya dan menjauh dariku. Aku ingin
menangkapnya tapi ku urungkan
“Aku
tahu ini terdengar aneh”, aku berusaha menjelaskannya tapi dia semakin menjauh.
“Kamu
gila..... kamu gila....”, ucapnya berulangkali sambil menjauh.
“Aku
benci kamu”, hanya itu kata-kata terakhir yang sempat aku dengar, karena
setelah itu semua menjadi gelap. Duniaku berubah hitam, aku kehilangan arah, seperti
orang buta yang tak mampu melihat apapun.
Aku membuka mata ketika terdengar
suara dari informasi yang mengatakan kereta api menuju tempat tujuanku telah
tiba. Aku melihat tempat dimana rani berdiri sudah kosong tanpa penghuni. mungkin
dia sudah pergi atau lari ketika dia tahu aku ada disitu. Goresan luka itu
masih ada dan terasa di dalam tubuhku. Aku menoleh ketika pundakku disentuh
oleh sepupuku yang sedari tadi duduk di sampingku.
“Mbak
Mirna, kereta kita sudah datang, ayo kita masuk”. Aku hanya bisa mengangguk dan
mengikuti langkah sepupuku. Hidupku terus berjalan tapi bayangannya tak akan
pernah bisa hilang.
No comments:
Post a Comment