Product

Tuesday, November 25

Rani....

      Aku menyelonjorkan kakiku setelah pantatku menyentuh kursi di ruang tunggu stasiun. Sembari mencoba mengistirahatkan badanku aku memandang sekitarku, dan mataku tertuju pada sesosok tubuh yang berdiri tak jauh dariku. Badanku merasakan ketegangan yang sudah begitu lama tak lagi kurasakan. Masih tetap sama, sama sekali tidak berubah meskipun sudah hampir 5 tahun aku tidak melihatnya. Rambut panjang dengan gelombang bak air laut menambah eksotis wajah sawo matangnya, mata yang tajam dan dalam membuat aura ketegasan terpancar dari wajahnya. Semua yang sangat aku puja dan bahkan selama hampir 5 tahun ini aku mimpikan tanpa terlewat seharipun. Hampir aku baranjak dari kursiku ketika selintas kejadian itu terpapar di rekaman otakku. Rani Ayu namanya, perempuan yang sangat idealis dan dinamis. Segala geraknya telah membuat aku memujanya dalam batasan yang aneh. Aku urung berdiri dan kembali menarik tubuhku duduk di kursi. Aku takut dia akan marah dan lari jika aku menyapanya. Aku memejamkan mataku mencoba mengingat kejadian-kejadian silam bersamanya.
                “Apa yang kamu inginkan setelah ini ran?”, aku menanyakan padanya di suatu sore saat duduk di bangku panjang kampus kami.
                “Aku ingin menjelajah bumi”, katanya sambil tertawa. Aku hanya memandangnya dan semilir kebahagiaan hadir mendengar tawanya.
Dia menatapku dan memandang dengan keheranan,
                “Apa ada yang salah dengan omonganku”, dia masih menatapku.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng, aku tahu dia tidak akan mengerti apa yang kurasakan. Dia tidak akan tahu kalau tawanya telah membuat duniaku menjadi penuh warna, terasa indah. Lalu kami tertawa bersama sambil menyeruput segelas es kopi kegemaran kami.
Aku berlari mengejarnya untuk menunjukkan berita yang mungkin akan membuat dia sangat senang, dia menoleh setelah aku berteriak memanggil namanya. Alis matanya terangkat keatas melihatku seperti itu, aku hanya menyerahkan kertas yang bertuliskan namanya dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Dia menerimanya lalu menekuri sejenak, dan aaahhh benar sekali dugaanku. Karena wajahnya sedikit demi sedikit berubah memancarkan kebahagiaan yang kalau saja dilukis dalam kanvas akan memunculkan goresan wanita tercantik di belahan bumi ini. Sebelum  sempat aku berucap apa-apa, tiba-tiba dia berteriak dan memelukku dengan erat. Ya Tuhan...., andai saat itu aku tidak berada dalam pelukannya mungkin aku sudah pingsan tak sadarkan diri. Dia mencium pipiku dan aku bisa melihat dari matanya keluar butiran air mata tapi aku tahu pasti itu air mata bahagia jadi aku tidak perlu khawatir.
                “Aku... aku.... aku.....”, dia tidak bisa meneruskan kata-kata yang ingin terucap dari mulutnya. Seakan semua itu tersangkut di tenggorokkannya. Aku tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Semuanya telah dia lakukan untuk mendapatkan beasiswa ke negeri kincir angin.
                “Tidak ada usaha yang sia-sia ran”,  aku membimbingnya untuk duduk di bangku kampus kami. Dia memandangku, dan entah kenapa aku tahu itu pandangan luka. Apakah kamu juga merasa kehilangan seperti aku ran?, ingin sekali aku mendapatkan jawaban itu, tapi aku tak mampu mengatakannya. Rani terlalu istimewa dan aku memujanya dalam konteks yang tak bisa ku mengerti.
                “Aku terlalu bahagia sampai ga tahu mesti bilang apa, tapi aku tiba-tiba merasa sedih harus pisah sama kamu”. Aduuuuhhhhh jantungku seakan terloncat keluar mendengar kata-katanya. Dia juga merasakan apa yang kurasakan, rasa kehilangan.
Dia menyandarkan badannya di pohon taman kampus kami. Bibirnya tak putus-putusnya bercerita tentang dukungan keluarganya untuk menuntut ilmu di negeri orang. Aku mendengarkan tanpa sedikitpun merasa bosan, toh bagaimana aku bisa bosan bersama orang yang sangat kupuja. dia menatapku lalu tersipu mungkin karena dia sadar dia lah yang memonopoli obrolan kami sore itu. Tiba-tiba dia duduk dan menatapku
                “Apakah kepergianku menyakitkan buatmu?”, aku terhenyak dengan pertanyaan itu. Aku menggeleng keras-keras untuk meyakinkan bahwa itu tidak benar. Dia melihatku dengan seksama dan kemudian menghela nafas saat dia percaya bahwa aku juga turut senang dengan keputusannya.
                “Dari dulu aku ingin belajar disitu”, itulah yang dia katakan setelah itu, sebelum akhirnya kami tenggelam dalam segelas es kopi kegemaran kami.
Tinggal 2 hari lagi sebelum kepergiannya, aku masih dalam kebimbangan dengan semua perasaanku. Ingin sekali aku mengatakan padanya betapa aku sangat memujanya, mengharapkan dia selalu bersamaku selamanya. Tapi entah kenapa aku selalu gagal merangkai kata-kata saat berdekatan dengannya. Dan sore itu dia datang ke tempat tinggalku dengan membawa berita yang sangat menyakitkan.
                “Dia mengatakan mencintaiku, dan ingin aku menjadi kekasihnya” tiba-tiba dapat kurasakan perputaran bumi dalam kepalaku saat mendengar dia mengatakan itu.
                “Selama ini aku menyukainya dan berharap ferdian juga begitu, dan kamu selalu tahu itu”,  untuk kali ini aku hanya memandangnya ketika bibirnya mengatakan itu sambil tangannya memegang bahuku. Aku yang memujanya, Aku yang selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun tapi sekarang.... dia ingin memilihnya. Ferdian pebasket handal kampus kami telah membuat raniku jatuh hati. Dan betapa sempurnanya waktu yang diambil ferdian untuk mengungkapkan cintanya pada rani. Tanpa permisi, tanpa meminta pertimbanganku rani memutuskan untuk menerimanya. Entah kenapa aku seakan tidak bisa menerima semua itu. Aku mencoba menenangkan seluruh aliran darahku yang terasa mendidih.
                “Kamu yakin dengan semua itu ran?, kamu akan pergi mengejar mimpimu dan apakah hubungan kalian bisa terjaga?”, aku mencoba menyadarkannya bahwa cintanya adalah kesalahan semata.
                “Aku sangat yakin dengan rasa yang ku miliki, sudah bertahun lamanya aku menunggu saat ini seperti juga sesuatu yang ku impikan”. Dengan nada mantap rani mengatakan hal itu. Aku sudah tak sanggup menahan gejolak yang ada di hati yang kemudian menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Aku tak ingin raniku menjadi milik orang lain.
                “Rani....” dengan sekuat tenaga aku mencoba mengumpulkan keberanianku. Dia memandangku dan wajahnya seakan menunggu ucapanku.
                “Aku tahu ini terdengar aneh buatmu, tidak masuk akal dan tidak wajar... tapi.....”,  aku terdiam dan terjadi jeda saat itu. Dia hanya diam dan melihatku dengan pandangan bingung.
                “Apa kamu tidak pernah tahu kalo aku sangat memujamu, sangat ingin bersamamu selamanya karena aku tak sanggup hidup jauh darimu. Aku...aku....aku sepertinya mencintaimu”. Dia terjingkat dari duduknya dan menjauh dariku. Aku ingin menangkapnya tapi ku urungkan
                “Aku tahu ini terdengar aneh”, aku berusaha menjelaskannya tapi dia semakin menjauh.
                “Kamu gila..... kamu gila....”, ucapnya berulangkali sambil menjauh.
                “Aku benci kamu”, hanya itu kata-kata terakhir yang sempat aku dengar, karena setelah itu semua menjadi gelap. Duniaku berubah hitam, aku kehilangan arah, seperti orang buta yang tak mampu melihat apapun.
Aku membuka mata ketika terdengar suara dari informasi yang mengatakan kereta api menuju tempat tujuanku telah tiba. Aku melihat tempat dimana rani berdiri sudah kosong tanpa penghuni. mungkin dia sudah pergi atau lari ketika dia tahu aku ada disitu. Goresan luka itu masih ada dan terasa di dalam tubuhku. Aku menoleh ketika pundakku disentuh oleh sepupuku yang sedari tadi duduk di sampingku.
                “Mbak Mirna, kereta kita sudah datang, ayo kita masuk”. Aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah sepupuku. Hidupku terus berjalan tapi bayangannya tak akan pernah bisa hilang.

No comments:

Post a Comment